Lepas Video Lirik, Amigdala Sukses Gelar Showcase Bertajuk "KATARSIS"

Lepas Video Lirik, Amigdala Sukses Gelar Showcase Bertajuk "KATARSIS"

Berita Musik Indie Terbaru dan Terlengkap Indonesia

Berita Indie Terbaru - Band indie folk asal kota Bandung yang dibentuk pada Desember 2016 silam. Dalam struktur bahasa, amigdala merupakan satu bagian yang terdapat di otak dan berfungsi atas peluapan emosi. Mungkin, berangkat dari definisi itulah grup ini pun membuat materinya dengan diwarnai emosi yang sangat terasa. Amigdala diperkuat dengan formasi Andari (vokal), Isa (gitar & vokal), Iqbal (bass), dan Junet (drum).

Pada 1 Oktober lalu, Amigdala baru saja merilis sebuah video lirik dari single yang sudah mereka rilis sejak Februari lalu. “Ku Kira Kau Rumah” adalah judul dari materi yang mereka visualisasikan, tak hanya menyertakan penampilan indah dari seorang wanita, tapi juga mereka menyematkan lirik dari lagu ini sendiri. Video ini sudah mereka perkenalkan lewat launching di Butterfield Kitchen, Bandung dalam bentuk showcase event yang bertajuk “KATARSIS”. Showcase ini dimeriahkan juga oleh penampilan Alvin Baskoro dan Halu.

Dalam penggarapan video musik "Ku Kira Kau Rumah" Amigdala mengandeng Dwi Ario Abadi bersama tim dari Loo Idea untuk urusan sinematografi, dan Sanya Fauziah sebagai. Visualisasi indah nan artistik disuguhkan oleh Amigdala, dengan olah tubuh dan rasa yang diperagakan oleh Sanya Fauziah. Sanya menggambarkan “Ku Kira Kau Rumah” lewat tari kontemporer.

Penggarapan video ini dilaksanakan di kawasan Dago Atas, Bandung. Visual alam teduh yang ditampilkan seiring dengan lettering dari lirik yang digarap oleh Jarwo "Kacang Longgar", video ini mampu menghipnotis perasaan untuk menjadi lebih tenang. Tak dapat disangkal, Amigdala merupakan grup folk yang mampu mencuri perhatian secara melodi maupun visual.
Sederet Musisi Papan Atas Siap Meriahkan 'Malang Jazz Festival 2017'

Sederet Musisi Papan Atas Siap Meriahkan 'Malang Jazz Festival 2017'

Berita Acaea Musik Malang Terbaru dan Terlengkap

Berita Musik Terbaru - Setelah sukses digelar pada tahun lalu, kini Malang Jazz Festival 2017 (MJF 2017) siap kembali untuk memuaskan gairah para penikmat musik jazz. Pada gelaran tahun ini MJF 2017 akan digelar pada 7 Oktober 2017 dan kembali menunjuk Kawasan Wisata Lembah Dieng Malang.

Acara yang bertajuk The Urban Jazzy ini pun akan dimeriahkan oleh penampilan dari 7 band nasional, 7 band lokal, serta 70 musisi ternama. Sebut saja nama-nama seperti Krakatau Reunion, Syaharani and Queenfireworks, Sheila On 7, Teza Sumendra, The Overtunes, Stars and Rabbit dan Equinox (MLD Jazz Wanted winner) featuring Calvin Jeremy.

Untuk pagelaran tersebut, MJF 2017 pun menyediakan 2 stage besar sebagai tempat utama untuk para performers menyajikan musik-musiknya. Seluruh penampilan baik di MJF Stage maupun MLD Urban Stage akan dimulai pada pukul 13.00 WIB sampai selesai.

Untuk tiket sendiri MJF 2017 menyediakan dua kelas utama yakni VIP dan Festival. Masing-masing kelas itu nantinya akan dibagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu VIP 1 dan VIP 2, serta kelas Festival A dan Festival B.

Posisi kelas Festival akan berada tepat di depan panggung, namun tetap dengan harga yang terjangkau. VIP 1 dan VIP 2 yang selama ini selalu ludes sebelum hari H akan menempati tribun yang dirancang khusus dengan view yang lebih nyaman tanpa terhalang kelas Festival yang berada di depannya.

Tiket festival musik ini pun dibanderol mulai dari kelas Festival B dengan harga Rp. 140.000, Festival A yakni Rp. 175.000, lalu VIP 2 dengan harga Rp. 450.000 dan VIP 1 di mana harga Rp. 1.250.000 akan menjamin pengalaman menikmati festival musik jazz yang tak terlupakan. Tiket bisa di dapatkan secara online di halaman berikut.
The Rentones, Unit Instrumental Surf Hot Rod asal Bogor, Merilis Debut Mini Album

The Rentones, Unit Instrumental Surf Hot Rod asal Bogor, Merilis Debut Mini Album

Berita Musik Instrumental Terbaru dan Terlengkap

Berita Indie Terbaru - Grup instrumental surf-hot rod asal Kota Bogor, The Rentones, akan melepas mini album perdana mereka “Blown & Injected” yang rencananya dirilis pada pertengahan Oktober 2017 mendatang. Band yang dibentuk pada tahun 2015 oleh Aldino Anatusa (Bass) dan Umar Bawahab (Gitar) ini selama kurun waktu dua tahun perjalanannya lebih banyak menghabiskan waktu di studio untuk merekam materi-materi lagu mereka dan menyibukan diri dengan pencarian sound yang mereka inginkan. 

The Rentones merekam keseluruhan materinya di Fake Hero Studio Bogor dan diproduseri langsung oleh The Rentones, album Blown & Injected memiliki nuansa yang berbeda dengan album musik surf pada umumnya, alih-alih mengangkat tema pantai dan selancar The Rentones khusus mengangkat tema drag race dengan nuansa balap-balapan mobil sebagai visualisasi pemicu adrenaline dari 4 track yang mereka suguhkan dalam album ini: Blown & Injected, Draguar, 1/8 Mile, dan Sneezed The Blower.

Hal yang dilakukan The Rentones tersebut terinspirasi pada apa yang terjadi di era skena musik surf tahun 60-an, pada era tersebut musik surf baik dengan vokal maupun instrumental mengarahkan tema mereka dari tren yang sedang berkembang di masyarakat khususnya di kalangan anak muda, yaitu selancar dan otomotif. 

Keseluruhan lagu pada album ini memiliki sound yang khas yaitu tone gitar yang berbalut reverb tebal, alur bass yang bergerak aktif tanpa henti dan hentakan drum yang cepat untuk menjaga akselerasi sehingga mereka tetap pada lintasannya namun semua tentu masih dalam koridor musik surf pada pokoknya, bahwa The Rentones adalah band surf instrumental yang menjadikan lead gitar sebagai vokalisnya, yang tak hanya bertugas ‘menyanyikan’ tiap tema lagu dengan baik tetapi juga menjaga visual dan suasana dari lagu itu sendiri. Coba simak Blown & Injected dan Draguar, kedua lagu tersebut menggunakan minor scale bertempo cepat dengan progresi chord khas surf music sebagai landasannya. Atau Sneezed The Blower yang menghentak dengan dominasi fuzz pada gitar mengingatkan kita akan soundtrack film bertemakan geng motor tahun 60-an seperti The Wild Angels dan The Glory Stompers. 1/8 Mile hadir sebagai penetralisir atas kegilaan jalanan dari lagu-lagu sebelumnya, cenderung bertempo lebih lambat namun kelam dan mengerang di pertengahan.

Sebagai perkenalan menuju perilisan mini album tersebut, The Rentones telah melepas lagu berjudul “Blown & Injected” sebagai single pertama dari mini album bernama sama melalui kanal soundcloud mereka. The Rentones juga melepas video untuk single tersebut di YouTube yang dapat ditonton di kanal milik mereka. Debut mini album Blown & Injected dirilis dalam format rilisan kaset pita terbatas, berisikan kaset pita, sticker, serta voucher download untuk mengunduh versi digital dari mini album ini. Pastikan untuk menyetel maksimal volume pemutar musik anda untuk merasakan sensasi kebut-kebutan ala NHRA Championship Drag Racing tahun 60-an langsung dari.album Blown & Injected.
KATARSIS

KATARSIS

Informasi event, acara, pensi, konser terbaru dan terlengkap indonesia
Amigdala
Present:

"KATARSIS"

Perilisan Video Lirik "Ku Kira Kau Rumah" 

Date:
Sunday, October 1st 2017 

Start:
7 PM - Until End 

Venue:
 Butterfield Kitchen
 Jl. Dipatiukur No. 5, Bandung

 Special Performance by:
Alvin Baskoro
 Halu

Performance Art by:
Sanya Fauziah

MC by:
Arika Fitria

FREE ENTRY 
Memasuki Proses Akhir, Sheila On 7 Siap Untuk Rilis Single Baru

Memasuki Proses Akhir, Sheila On 7 Siap Untuk Rilis Single Baru

Berita Musik Indonesia Terbaru dan Terlengkap

Berita Musik Terbaru - Setelah Sheila Gank dibuat menunggu cukup lama, akhirnya Brian drumer So7 mengungkapkan kalau Sheila On 7 tengah memasuki proses akhir untuk single baru mereka yang kemudian akan dilanjutkan dengan sebuah video klip.

"Single, sekarang lagi proses mixing akhir. Bisa kapanpun selesai. Abis itu kita bikin video klip. Terus kita bisa mainin. Untuk judul lagu masih tentatif. Film Favoritmu itu pernah dibawain di PRJ. Alhamdulillah dapet sambutan positif," terang Brian, saat ditemui di Pisa Cafe, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/9/2017).

Yang menarik, Brian menjelaskan kalau Sheila On 7 hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk memproses materi baru mereka. Hanya saja, jadwal serta mood masing-masing personel diakui Brian jadi faktor-faktor yang membuat proses penggarapan single tersebut berjalan cukup lama.

"Wah lama banget, dua hari. hahaha. Sebenernya bikinnya cepet, cuma kita cari waktu, kita nyari mood yang enak itu susah. Karena jadwal Sheila On 7 Alhamdulillah masih padet. Pas ketika ada waktu kosong, masing-masing sama keluarga," lanjutnya.

Walau begitu Brian mengatakan kalau bukannya tidak mungkin Sheila On 7 akan merilis single tersebut bulan depan. Yang menarik, kali ini Brian pun mengungkapkan sedikit, cerita apa yang Sheila On 7 usung ke dalam single baru mereka.

"Bisa bulan depan, targetnya akhir tahun. Yang saya tangkap itu, ibaratnya kita nonton, seseorang yang kita sayangin, kita akan berjuang seperti tokoh utama yang ada di film favoritmu. Walaupun kita bukan tokoh film. Semua orang kan punya tokoh film, nah saya menggambarkan saya berjuang sekeras tokoh favoritmu," pungkasnya.
Live Review: Rock in Borneo 2017

Live Review: Rock in Borneo 2017

Ulasan konser musik indonesia terbaru dan terlengkap

Distorsi Borneo sebagai penanggung jawab acara Rock in Borneo 2017 ingin mengangkat seni tradisional dalam acara tahunan mereka dengan cara menyatukannya dengan pementasan seni teater tradisional Kalimantan dengan tajuk Mamanda Etam Lestari. 

Selain dipandu Mamanda, penonton dengan ikat kepala khas Kutai (pesapu) diberi antrean khusus agar tidak perlu berdesakkan masuk ke Lapangan Panahan Stadion Aji Imbut, Tenggarong. Usaha lain melestarikan tradisi.

Sebelum Mamanda dimulai Revenge the Fate hadirkan musik mereka. Ternyata, para metalhead setempat dapat mengikuti lirik yang dinyanyikan Anggi, mungkin karena ini kali kedua mereka tampil di sana atau memang penikmat musik di sana sudah sadar akan perkembangan musik di luar. “Simfoni Menuju Akhir,” “Ambisi,” dan cover “Jengah” dari Pas Band mereka nyanyikan sambil menari dan menggila. Metalhead wanita, seperti panggung-panggung biasa Revenge the Fate, mewarnai garis depan mosh pit.

Sesaat setelah matahari terbenam, acara diistirahatkan kemudian MC mengumumkan tempat mengambil air wudu dan mengarahkan pengunjung ke tempat yang sudah disediakan. “Musik boleh metal tapi salat jangan ditinggal,” ujarnya dari atas panggung. Mereka pun salat magrib berjamaah di venue, tempat yang tadinya dan setelahnya nanti, mereka gunakan untuk menikmati apa yang disebut haram oleh beberapa pemuka agama.

Kapital, unit metal kebanggaan Tenggarong, menjadi band pertama yang tampil di malam hari. Mereka tidak pernah absen mengisi Rock in Borneo dan di kali keenam ini ada hal istimewa yang mereka bawa. Album baru mereka, Semesta Rawa, dirilis bersamaan dengan Rock in Borneo 2017. “Mutu Manikam” dan “Sajak Matahari” adalah potongan album tersebut yang mereka bawakan malam itu, menemani hit-hit mereka sebelumnya seperti, “Gaza,” “Bermain Peran,” dan “Resonansi Dua Sisi.” Selain itu, Akbar Haka, dengan rambut baru yang membuatnya terlihat seperti Chester Bennington, meresmikan bassist baru Kapital, Ninoy, menggantikan Beng yang sebelumnya hengkang.

Akhirnya, pertunjukkan Mamanda dimulai. Para pemeran mempraktikan Ladon, seni bertutur yang merupakan bagian dari Mamanda, dan mencampurkan jalan cerita dengan penampil yang akan naik selanjutnya.

Tarian Dayak dari Kombeng, Miau Baru, salah satu daerah di Kutai Timur dan Tari Jepen muncul berturut-turut. Musik Tari Dayak Miau Baru sangat kental dengan suara alat musik petik, mungkin sampek, dengan tangga nada mayor namun tetap memberi kesan mistis, menemani koreografi para penari wanita dengan hiasan bulu di kedua tangan dan seorang penari pria dengan tameng dan pedang. 

Di lain sisi, Tari Jepen sepertinya berpatok pada alat musik pukul, mengatur tempo dari beberapa pasang penari wanita dan pria yang juga memanfaatkan rebana dalam tarian mereka dengan gerakan yang lebih tegas dan banyak memanfaatkan luas panggung. Sang raja yang bersedih muncul setelah kedua tarian tadi. Untuk menghiburnya, para pengikutnya bersiap memanggil hiburan selanjutnya, Jamrud. 

Jamrud muncul dengan “Berakit Rakit” sebagai pembuka. Jumlah pengunjung yang mencapai 60 ribu orang nampaknya mencapai puncak saat mereka tampil. Krisyanto dan kawan-kawan membawakan lagu mereka yang tentunya sudah dikenal seperti “Naksir Abis,” “Ningrat,” “Kabari Aku,” dan “Surti Tejo.” Lalu Krisyanto mempersembahkan lagu selanjutnya untuk ulang tahun Tenggarong, Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara, yang sebenarnya masih lima hari lagi tiba, lagu “Selamat Ulang Tahun” pun dibawakan disusul dengan “Putri” dan ditutup dengan “Waktuku Mandi.”

Band pengisi lineup internasional yang di tahun-tahun sebelumnya sempat diisi Sepultura, Helloween, Testament, FireHouse, dan lain-lain ini membawakan belasan lagu selama sekitar 90 menit waktu tampilnya. “Piece of Me,” “Livin’ on A Chain Gang,” “18 and Life,” dan “Rattlenake Shake” dibawakan berturut-turut dibawah pimpinan vokal ZP Theart yang baru saja bergabung secara resmi dengan Skid Row pada awal tahun. Lalu, mantan vokalis DragonForce ini memberi kehormatan untuk Bolan untuk mengambil alih vokal dalam lagu “Psycho Teraphy.”

Setelah ZP kembali untuk menyanyikan “In A Darkened Room,” dan “Get the Fuck Out,” Snake ingin mencoba bermain dengan crowd yang hadir.

“Bisakah kalian menyoraki boo pada saya,” katanya pada penonton. Penonton sempat terdiam karena tidak mengerti ucapnnya yang disampaikan dalam bahasa Inggris namun akhirnya menyorakinya setelah Snake mencontohkan. Ia pun tertawa dan mencobanya beberapa kali didampingi ZP yang meminjam kamera pihak dokumentasi dan merekam kelakuan gitarisnya.

Mereka pun membawakan “Monkey Business”. Ditengah-tengah lagu, anggota Skid Row bergantian menunjukkan keahlian mereka. Dimulai dari Bolan yang maju lebih dekat dengan penonton membetot bassnya hanya ditemani ketukan drum Rob Hammersmith dilanjutkan dengan Snake dan Scotti Hill yang bergantian berimprovisasi. Snake dan Scotti sedikit menyomot potongan “Cowboys From Hell” dari Pantera dalam jamming session ini.

Di akhir acara mereka memainkan balada andalan mereka “I Remember You,” dilanjutkan dengan “We Are the Damned” dan “Youth Gone Wild”.
Live Review: Soundrenaline 2017

Live Review: Soundrenaline 2017

Ulasan acara musik indonesia terbaru dan terlengkap

Penonton di hari pertama Soundrenaline dibuat sibuk dengan banyaknya band yang bermain berdekatan di empat panggung yang berada di arena GWK, Bali. Ribuan penonton menyesaki arena GWK, Bali tempat Soundrenaline 2017 berlangsung. The Adams yang banyak ditunggu penonton tampil di A Stage jam 17.30 dengan lagu-lagu anthem mereka seperti “Halo Beni” dan “Konservatif” yang selalu sukses membuat pecah panggung mereka.

Efek Rumah Kaca yang tampil perdana jam 16.00 di Burst Stage sengaja membawa 7 string section dari Semarang yang membuat lagu-lagu kolosal mereka seperti “Di Udara” dan “Pasar Bisa Diciptakan” makin membuat gulungan emosi menyala. Penonton menyuarakan lirik demi lirik lagu Efek Rumah Kaca dengan fasih dan lantang sore tadi di Soundrenaline. Tak sedikit yang meneteskan air mata diantara penonton saat lagu “Di Udara” mereka kumandangkan, lagu yang dipersembahkan Efek Rumah Kaca untuk almarhum Munir.

Di United We Loud Stage lanjut bergantian Seringai dan Burgerkill yang sukses membuat bumi berpijak di GWK, Bali bergetar! Arian dari Seringai bahkan sempat berpura-pura menjadi band bule dengan mengucapkan “Terimakasih” dengan logat bahasa Inggris yang dibuat-buat seperti kebanyakan band asing yang main di Indonesia. Aksi ini sukses membuat penonton tertawa terbahak.

Jam 23.00 antrian penonton tak terbendung yang ingin menyaksikan kolaborasi memikat Stars and Rabbit serta Bottlesmoker di Slim/Refined Stage. Salah satu proyek kolaborasi paling mendapat respon bagus di musik Indonesia sejak awal tahun 2017 mereka ini. Sebelumnya si cantik Danilla, jagoan folk tanah air Float yang mengayun syahdu dengan lagu-lagunya, dan Mondo Gascaro juga tampil maksimal di panggung berbentuk ampitheater ini.

Jet menjadi salah satu headliner malam ini di Soundrenaline. Pelantun komposisi “Cold Hard Bitch”, “Look What You’ve Done” dan “Are You Gonna Be My Girl” berhasil menjadi salah satu penutup sajian Soundrenaline hari pertama.

Saat pelaksanaan Soundrenaline hari kedua tiba. Tampak segerombolan calon penonton Soundrenaline berdiri di depan pintu utama Garuda Wisnu Kencana, Bali. Mereka bergaya dengan kostum beragam terdiri dari belasan pria dan wanita. Ada yang memakai T-shirt Sheila On 7, Rocket Rockers sampai Dashboard Confessional.

Soundrenaline di hari kedua menawarkan banyak ragam pilihan menu musik. Tak hanya itu ragam mural dan seni visual yang penuh warna indah tergambar di tiap sudut arena GWK, Bali. Menjadi sudut favorit untuk foto dan dipamerkan di akun social media pribadi penonton Soundrenaline.

Di Slim/Refined Stage tampak dibuka oleh si cantik Sandrayati Fay mulai pukul 16.00, yang melantunkan lagu-lagu indahnya. DI lokasi ini lanjut dengan singer songwriter yang tengah menjadi buah bibir, Leanna Rachel memberikan suguhan yang sedap.

Bersaing di Burst Stage juga hadirkan band-band pembuat histeris massal dengan sapuan lirik mereka yang membius hati. Sebut saja aksi Dialog Dini Hari dan Payung Teduh yang menjadi paket kombo penghantar kenikmatan musikal menyambut senja di pulau dewata.

Di jam yang sama di A Stage bergantian Rocket Rockers dengan vokalis Aska membius penonton. “Kami sudah lama tidak main di Soundrenaline.” Katanya dengan nada serius. “Iya kami soalnya band baru, baru berusia 18 tahun!” kata Bisma, pemain bass Rocket Rockers yang disambut tawa penonton. Sebelumnya Davy Jones dan Under The Big Bright Yellow Sun dengan musik post-rock juga tampil di A Stage dengan aksi maksimal mereka.United We Loud Stage tak mau kalah. Rollfast, Joni Agung & Double T, dan supergroup Hellcrust tampil membuat arena ini menjadi membara.

Malam makin ramai dengan tampilnya bergantian Musikimia, /rif, Endank Soekamti, Cults, Rendy Pandugo, Rock & Roll Mafia, Elephant Kind, Goodnight Electric, Musikimia, Barasuara sampai Dashboard Confessional. Juga aksi yang selalu membuat penonton rela menunggu adalah aksi enerjik Kotak, NTRL, dan tentu saja Sheila On 7.

Kolaborasi yang banyak ditunggu di hari kedua Soundrenaline 2017 adalah aksi dari Scaller dan Andien, Glenn Fredly dan Kelompok Penerbang Roket, serta Neonomora dan HMGNC.

Soundrenaline 2017 ini benar-benar menjadi aksi perayaan beragam seni yang menyatu menjadi kekuatan penuh energi. Seperti tagline mereka, United We Loud dengan penampilan berkualitas lebih dari 70 musisi Tanah Air dari berbagai genre dan masa di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali selama dua hari tanggal 9 dan 10 September 2017.

Penampilan perdana Payung Teduh di Soundrenaline serta kolaborasi Glenn Fredly dengan Kelompok Penerbang Roket di United We Loud Stage menjadi salah satu momen terbaik tahun ini. “Atensi dan animo yang sangat besar dari penonton yang hadir membuat kami sangat senang dapat ikut tampil di Soundrenaline. Ini pengalaman yang baru dan seru bagi kami,” kata Muhammad Istiqomah Djamad alias “Is”vokalis Payung Teduh setelah tampil.

Perhelatan musik akbar di Indonesia, Soundrenaline 2017, telah sukses diselenggarakan. Edisi kelima belas dari festival tersebut kembali memberikan pengalaman membekas bagi para penonton yang hadir. Keindahan alam area Garuda Wisnu Kencana dipadukan dengan aksi dari para Jajaran penampil hingga kegiatan interaktif.