Down For Life Rilis Mini Album Baru Dalam Bentuk Vinyl Edisi Terbatas

Down For Life Rilis Mini Album Baru Dalam Bentuk Vinyl Edisi Terbatas

Berita Musik Indie Indonesia Terbaru dan Terlengkap

Berita Indie Terbaru - Setelah terakhir kali merilis album bertitel "Himne Perang Akhir Pekan" pada 2013 lalu, unit metalcore asal kota Solo, Down For Life kembali merilis karya terbaru mereka. Down For Life merilis mini album bertajuk "Menantang Langit". Mini album tersebut berisi 2 lagu yang belum pernah dirilis baik secara fisik maupun digital.

Vokalis Down For Life, Stephanus Adjie menjelaskan, kedua materi lagu ini sebenarnya sudah digarap pada April 2014 di Studio Kua Etnika Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Yogyakarta.

Awalnya, bertujuan untuk proyek bersama Digibeat, hanya saja belum terealisasikan. “Namun Demajors tertarik untuk merilisnya dalam format piringan hitam,” ujar Adjie. Penggarapan mini album tersebut melibatkan beberapa musisi tamu.

Lagu Liturgi Penyesatan, yang merupakan salah satu single di album "Himne Perang Akhir Pekan", diaransemen ulang dalam versi akustik oleh down for life dan Bagus Tri Wahyu Utomo, seorang musisi dan komposer dari Solo.

Versi asli yang penuh distorsi digubah menjadi lebih melodius dengan memadukan suara gitar akustik, string section dan paduan suara.

Satu lagu lagi adalah Kerangka Langit milik band rock legendaris dari Solo, Kaisar. “Ini adalah bentuk penghormatan down for life untuk Kaisar dan kancah musik keras di Solo juga Indonesia,” ujarnya.

Album ini akan dirilis dalam 2 edisi yaitu edisi bundling terbatas hanya 50 pcs, seharga Rp. 250.000,- berisi piringan hitam, t-shirt edisi khusus dari Merchcons dan korek gas dari Tokai.

Untuk edisi biasa, juga dibuat terbatas hanya 150 pcs, seharga Rp. 175.000,- berisi piringan hitam dan korek gas.
Sambut Hari Kemerdekaan Indonesia, Cokelat Rilis Single Berjudul "Garuda"

Sambut Hari Kemerdekaan Indonesia, Cokelat Rilis Single Berjudul "Garuda"

Berita Musik Indonesia Terbaru dan Terlengkap

Berita Musik Indonesia - Band pop rock asal Bandung, Cokelat, merilis single terbaru berjudul "Garuda". Lewat single tersebut Edwin (gitar), Ronny (bass) dan Jackline (vokal) turut merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 dan ingin mengajak masyarakat untuk mengesampingkan perbedaan, mengesampingkan opini-opini politik, dan fokus pada hal-hal yang patut dibanggakan sebagai bangsa Indonesia, hal-hal yang bisa kembali mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Sebagai band yang sejak awal selalu konsisten terhadap pembangkitan rasa nasionalisme ingin kembali memupuk rasa bangga itu, lewat “Garuda”, sebuah single baru yang digarap bekerja sama dengan produser Irwan Simanjuntak dan label HaloHei Entertainment.

“Ini nggak ada hubungannya dengan dunia politik,” cetus Edwin menegaskan. “Kami merilis single ‘Garuda’ sebagai ajakan. Sebuah gerakan non-politik. Kami nggak berbicara perbedaan, kami nggak berbicara tentang Bhinneka Tunggal Ika, nggak berbicara tentang pilihan politik.

“Kami ingin mengajak orang-orang untuk lebih positif memandang Indonesia. Kita semua, siapa pun itu, bisa menjadi #GarudaBanget walau lewat hal-hal kecil sekalipun, tapi positif dan berdampak bagus terhadap lingkungan. Misalnya, membuang sampah pada tempatnya, atau membudayakan antri. Itu semua bisa membuat kita hebat, dan layak disebut #GarudaBanget,” seru Jackline menimpali.

Pastinya udah pada tau kan kalo Garuda adalah simbol negara Indonesia? Tapi Garuda versi Cokelat di sini bukan dimaksudkan sebagai lambang negara. Tepatnya, Cokelat mengajak untuk menggunakan simbol ‘Garuda’ sebagai sesuatu yang bisa mewakili rasa kebanggaan.

“Jadi kita harus mencari sebuah simbol dimana semua orang yakin bahwa simbol itu memang sebuah lambang kehebatan, atau kekerenan, yang bisa dibanggakan,” urai Ronny memperjelas.

Lebih jauh, Ronny, Edwin dan Jackline menuturkan keprihatinannya terhadap gunjingan banyak orang yang kerap atau cenderung mengedepankan konotasi negatif tentang Indonesia. “Misalnya, yang nggak bisa antri itu Indonesia banget, yang membuang sampah sembarangan itu Indonesia banget, tim sepak bola-nya selalu kalah itu Indonesia banget.

Kenapa Indonesia banget itu selalu yang buruk. Kenapa gedung-gedung yang tertata rapi itu selalu dianggap bule banget? Amerika banget, atau Jepang banget? Menurut kami, anggapan itu justru menyakitkan hati jika melambangkan Indonesia pada sesuatu yang berkonotasi negatif,” tutur Ronny menyesalkan.

Fenomena itulah yang lantas menjadi salah satu alasan Cokelat memilih simbol ‘Burung Garuda’, sebuah simbol yang tak pernah mewakili keburukan.

Garuda nggak pernah melambangkan sesuatu yang buruk. Saat kita membicarakan Garuda, maka kita akan membayangkan sesuatu yang megah dan membanggakan. Seperti Indonesia, yang punya banyak sumber daya manusia yang hebat, kekayaan alam berlimpah, dan potensi lainnya, yang bahkan diperebutkan oleh negara-negara lain.
Bersiap, Madball Akan Manggung di Jakarta Desember Mendatang

Bersiap, Madball Akan Manggung di Jakarta Desember Mendatang

Berita Musik Internasional dan Mancanegara Terbaru

Berita Musik Internasional - Grup musik hardcore punk asal Amerika Serikat, Madball mengabarkan melalui akun twitter miliknya bahwa mereka akan bertandang ke Indonesia pada tanggal 7 Desember mendatang dalam gelaran Jakcloth 2017 yang bertempat di Gambir Expo Arena PRJ Kemayoran, Jakarta.

Band yang beranggotakan Freddy Cricien pada vokal, Hoya Roc pada bass, Vinnie Stigma pada gitar, Will Shepler pada drum tersebut juga saat ini sedang mengadakan tour di beberapa negara Eropa, seperti Jerman, Spanyol, Prancis, dan Swiss.

Di tengah rangkaian tour tersebut, Madball akan menyambangi Indonesia dan mengebrak panggung Jakcloth 2017.

Memasuki tahun ke-8 penyelenggaraan, JakCloth 2017 berusaha untuk memberikan hiburan berkualitas kepada pecinta musik dan fashion di Jakarta. Pada Mei 2017 lalu, Jakcloth memuaskan para pencinta heavymetal dengan menghadirkan Dragonforce.

Selain terus meningkatkan kualitas hiburannya, Jakcloth 2017 juga terus meningkatkan kualitas kenyamanan para pengunjung. Hal ini terbukti dengan berpindahnya lokasi penyelenggaraan yang biasanya bertempat di Parkir Timur Senayan, ke Gambir Expo Arena PRJ Kemayoran.
Grup Musik Death Metal Medan, Djin Merilis Single Terbaru

Grup Musik Death Metal Medan, Djin Merilis Single Terbaru

Berita Musik Indie Terbaru dan Terlengkap di Indonesia


Berita Indie Terbaru - Djin, grup musik death metal asal Medan resmi merilis single terbaru yang diberi judul "Phase 2: Lucid Interception" pada pekan lalu via kanal YouTube resmi mereka. Lagu berdurasi lebih dari tiga menit yang terdengar jauh berbeda dari materi-materi sebelumnya ini adalah karya pertama Djin setelah terakhir merilis album perdana bertajuk The Era of Destructionpada 2012 silam.

Lewat siaran persnya, gitaris David Salim menjelaskan karakter musik yang ingin ditunjukkan oleh bandnya saat ini. Meski tetap konsisten memainkan death metal, Djin memiliki perbedaan signifikan dari album sebelumnya. "Sekarang kami mengedepankan gaya permainan polyrhythm, groove, ambient, serta harmonisasi dari ragam riff kompleks yang kami ciptakan. Sedangkan untuk penulisan lirik, kami akan banyak membahas mengenai mentalitas manusia dari sudut pandang kami," ungkap David.

"Phase 2: Lucid Interception" tercatat sebagai satu dari kisah trilogi yang ketiganya akan menjadi bagian di album terbaru. Menurut David, pemilihan "Phase 2: Lucid Interception" sebagai single pertama dilatarbelakangi oleh pesan yang terkandung di dalamnya, yaitu proses penyusupan ideologi dan kebiasaan-kebiasaan baru ke dalam kognitif manusia yang dilakukan oleh pemerintah. Oleh para personel Djin, hal tersebut dirasa memiliki makna yang paling relevan dengan realitas dunia saat ini, khususnya terhadap masalah-masalah yang terjadi di Indonesia.

David menambahkan, "Dan angka dua di "Phase 2" juga seolah menceritakan babak selanjutnya yang akan kami lakukan sebagai band death metal tanah air sekaligus merupakan proses penyambutan untuk album kedua Djin yang saat ini masih dalam proses penggarapan."

Perekaman "Phase 2: Lucid Interception" sendiri mengambil tempat di beberapa studio berbeda. Untuk gitar dan bass direkam di IRIS Home Recording, Pematangsiantar, sementara drum dan vokal masing-masing direkam di Ganagi Studio dan Citra Studio yang keduanya berlokasi di Medan.

Djin yang juga diperkuat oleh vokalis Fuad Hasan, bassist Chiko TM, drummer Achmad Nurdin Marja, serta gitaris tambahan Risky Daulay berencana akan melepas album kedua pada 2018 mendatang via label rekaman musik rock/metal Jakarta, Sepsis Records.
Hyperduty Season VI

Hyperduty Season VI

Informasi Pensi dan Jadwal Konser Terbaru
SMA Negeri 5 Depok
Proudly Presents

HYPERDUTY SEASON 6

Date:
Sunday, August 6th 2017

Guest Stars:
Sheila on 7
JKT 48

Special Performance:
 Sore Afternoon
Famous 
S.O.S
Classy
Flashfive
5 Chord
Music of Six 

Master of Ceremony:
Akbarry 

Venue:
SMA Negeri 5 Depok

Ticket:
On The Spot: IDR 50K

More Info:
Instagram: @Hyperduty2017
Line: @YVN9875Q
Twitter: @Hyperduty
WORO & The Night Owls Lepas Debut Mini Album Bertajuk "Innervision"

WORO & The Night Owls Lepas Debut Mini Album Bertajuk "Innervision"

Berita Musik Indonesia Terbaru dan Terlengkap

Berita Musik Terbaru - Sebulan setelah dirilisnya single dan music video, ‘Innervision’, akhirnya WORO & The Night Owls merilis debut EP bertajuk sama, yaitu ‘Innervision’, pada 20 Februari 2017. Terdapat 5 lagu dalam mini album solo project milik singer-songwriter, WORO (vocals, guitar, keyboards, synthesizer) ini. Dimana, keseluruhan lagunya ditulis, diaransemen dan diproduseri sendiri oleh WORO dengan dukungan backup band-nya, Ditya (bass) dan Haris (drums). 

Tema besar yang diangkat dalam album ini adalah tentang mimpi, harapan dan optimisme. Secara keseluruhan, lagu-lagu di album ini, tak hanya sekadar merangkum segala intrik dan jatuh bangun kehidupan, namun juga menyelipkan pesan positif di tiap lagunya. 

Sedangkan, dari segi ambience, sound dan aliran musik WORO & The Night Owls merupakan perpaduan antara downtempo, soul, chill, ambient dengan sentuhan trip hop. 

Percampuran beberapa aliran musik dan tema-tema lagu tersebut melahirkan dualitas karakteristik dalam lagu-lagu WORO & The Night Owls, yakni nuansa musik yang terkesan misterius dan gloomy, namun liriknya tetap menyuarakan optimisme berdasarkan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dari sekitar.

Musisi dan band seperti Zero 7, Sia, Corinne Bailey Rae, John Mayer, Bonobo, Tropics, Portishead, Radiohead, Honne, Nick Murphy, Air, James Vincent Mcmorrow, The Internet, Yuna, Coldplay, Tom Misch, BadBadNotGood dan Mutemath adalah beberapa inspirasi bermusiknya.

Proses rekaman dan mixing mini album ‘Innervision’ berlangsung pada akhir Agustus hingga November 2015 di Krishna Sam’s Lebak Bulus Studio. Lalu, proses mastering-nya, ditangani oleh Indra Q (BatcaveIQALA).

Bekerjasama dengan label indie, Nanaba Records, debut EP ‘Innervision’ dirilis terbatas dalam bentuk kaset. Dikemas menarik dalam cangkang berwarna biru dengan ‘balutan’ case berwarna putih, seperti mengingatkan akan rilisan kaset di tahun 80an. Tak hanya itu, di dalam tiap kasetnya juga terdapat kode khusus (download code) yang bisa digunakan untuk mengunduh EP ‘Innervision’ ini melalui situs Bandcamp.
Gaung’s Guide On: A Tranquil Banquet with A Foe

Gaung’s Guide On: A Tranquil Banquet with A Foe

Info Gigs Indie Terbaru

Setelah resmi menelurkan album perdana bertajuk Opus Contra Naturam pada Selasa, 18 Juli 2017 lalu, Gaung, unit instrumental rock asal Bandung, akan segera menggelar perayaan soft launching dari bundel karyanya tersebut yang berjudul Gaung’s Guide On: A Tranquil Banquet with A Foe. Acara ini adalah hasil kolaborasi antara Orange cliff Record, Kollektiv Store, dan Janevala.

Sebelum merilis Opus Contra Naturam, band dengan komposisi Rama Putratantra (gitar, bass, field recorder) serta Rendy Pandita (drum) ini sebelumnya sempat pula meluncurkan kaset dengan kuota terbatas yang berisikan dua single: Killing with Virtue dan Global Problem Listening Class.

Acara yang akan terselenggara pada hari Sabtu, 29 Juli 2017 tersebut berlokasi di Playhouse, Jl. Gudang Selatan No. 22. Kontennya sendiri akan berformat DJ set dan dipenuhi oleh para musisi yang menggubah musik elektronik: Gaung (featuring Fachrur Riaz dan Tommy Herseta), Logic Lost, Helm Proyek, Deathless, Individual Distortion, serta proyek kolaborasi antara Bin Idris dan Nurachman Andika.