Biografi Sigmun


Biografi Sigmun - Band rock Indonesia yang dibentuk pada Desember 2011 di Kota Bandung,  mereka terdiri dari Haikal Azizi (vokal/gitar), Nurachman Andika (gitar), Mirfak Prabowo (bass) dan Pratama Kusuma Putra (drums).

Ketika itu tahun 2004, Haikal Azizi baru saja menginjak Sekolah Menengah Atas. Jenjang kehidupan baru menanti. Ia diminta ayahnya untuk masuk ke Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia yang berkonsep asrama muslim. Sebagai anak yang baik, Haikal menuruti permintaan tersebut. Toh sekolah itu memang dikenal bagus. Namun ada satu hal yang usil mengganggu pikirannya: ekspektasi bahwa murid-murid sekolah tersebut merupakan "kutu buku berdarah dingin".

Tetapi pada kenyataannya rasa khawatir tersebut langsung menghilang sejak pertama kali Haikal bermalam di kamar asrama. Ternyata teman satu kamarnya memiliki aura yang "anak band banget" dan hal ini membuat Haikal terdorong untuk minta diajarkan bermain gitar, dari kunci sederhana Green Day hingga kemudian bersama-sama membawakan lagu The All-American Rejects untuk acara sekolah.

Lalu ketika naik ke kelas sebelas, Haikal memiliki teman baru yang bisa membawa kemampuan bergitarnya ke tingkat lebih tinggi. Teknik gitar yang dipelajari pun lebih rumit, permainan Tom Morello dari Rage Against the Machine sering dijadikan acuan. Ditambah lagi Haikal juga sempat membeli MP3 di pinggir jalan yang dipenuhi lagu dari pemusik-pemusik blues macam Muddy Waters. Dari pembelian itulah ia mulai mempelajari skala yang membuatnya bisa menciptakan lagu sendiri.

Siapa yang menyangka bahwa madrasah aliyah bisa menjadi tempat berkenalan, bahkan mempelajari, musik rock? Haikal tanpa disengaja seakan menjadi antitesis legenda delta blues Robert Johnson yang konon melakukan kesepakatan dengan iblis di sebuah perempatan jalan.

Sebagai hasil dari ilmu musik yang terus ia gali bertahun-tahun, Haikal—bersama tiga temannya yang kemudian ia jumpai ketika berkuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain – Institut Teknologi Bandung dari 2007 hingga 2012.

Pada 15 November 2015 mereka merilis album perdana dengan identitas Sigmun. Bertajuk "Crimson Eyes", album yang dikeluarkan melalui label rekaman butik Orange Cliff Records tersebut menyuguhkan komposisi-komposisi panjang yang padat progresi dan relatif rumit. Jauh dari Sabbath-rock tanpa basa-basi yang termuat dalam demo mereka pada 2011 silam.

“Kenapa nama Sigmun, itu adalah nama yang kebetulan asik untuk dipakai dan teori Sigmund Freud-neurologis cum pencetus psikoanalisa, pernah mereka pelajari di teori awal-awal kuliah,” ujar Haikal, sang vokalis.

Teori dari Sigmund Freud ini rupanya menjadi inspirasi terbentuknya band rock asal Bandung ini, dalam menggeluti dunia seni. Mereka sama-sama menempuh pendidikan seni di FSRD ITB ini mengambil nama Sigmun sebagai identitas mereka.

Seorang pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi, yang kental dengan teori tentang alam bawah sadar, yang mengendalikan sebagian besar perilaku Menurut Sigmund Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious). 

Ini juga yang menjadi ketertarikan empat pemuda ini dan menjadi satu acuan mereka dalam bermusik. “Ya tidak sedalam anak psikolog sih, cuma tertarik pada konsep surealismenya. Konsep alam bawah sadarnya, menjangkau lewat musik”, ujarnya

Setelah rilis pada 15 November 2015 yang lalu, hingga kini album Crimson Eyes sudah memasuki cetakan ketiga. Hal ini cukup memberikan bagaimana gambaran dan respon publik terhadap scene rock di lokal Indonesia saat ini.

Tak hanya respon pasar yang baik dalam menyambut kehadiran Sigmun di belantika musik lokal, namun album ini juga menjadi satu di antara daftar 20 Album Indonesia terbaik versi Rolling Stone Indonesia.

Seperti banyak kisah sukses lainnya, ada faktor keberuntungan yang ikut campur dalam perjalanan karier Sigmun. Kepopuleran mereka mulai menyebar luas pada 2011, ketika mengisi bagian penutup The Raid arahan Gareth Evans lewat lagu berjudul sama dengan tajuk film laga fenomenal tersebut. Lucunya, tawaran pertama Gareth sebetulnya ditujukan kepada The S.I.G.I.T. namun mereka berhalangan karena fokus menggarap album baru. Alhasil, Rekti Yoewono selaku pentolan The S.I.G.I.T. mengopernya kepada Sigmun. Rekti kemudian turut serta menciptakan dan bernyanyi pada lagu "The Raid".

Dikatakan mengacu pada musik psychedelic, tetapi menurut mereka Sigmun mendapat influence dari Black Sabbath, Led Zeppelin, hingga The White Stripes, dan kini timbul pula pengaruh dari King Crimson, Sleep, serta Swans namun mereka berusaha untuk tidak berubah untuk menjadi natural melalui karya-karya Sigmun.

Anggota Band:
  • Haikal Azizi [Vocal & Guitar]
  • Nurachman Andika [Guitar]
  • Mirfak Prabowo [Bass]
  • Pratama Kusuma Putra [Drums]

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments: