Live Review: Rock in Borneo 2017

Ulasan konser musik indonesia terbaru dan terlengkap

Distorsi Borneo sebagai penanggung jawab acara Rock in Borneo 2017 ingin mengangkat seni tradisional dalam acara tahunan mereka dengan cara menyatukannya dengan pementasan seni teater tradisional Kalimantan dengan tajuk Mamanda Etam Lestari. 

Selain dipandu Mamanda, penonton dengan ikat kepala khas Kutai (pesapu) diberi antrean khusus agar tidak perlu berdesakkan masuk ke Lapangan Panahan Stadion Aji Imbut, Tenggarong. Usaha lain melestarikan tradisi.

Sebelum Mamanda dimulai Revenge the Fate hadirkan musik mereka. Ternyata, para metalhead setempat dapat mengikuti lirik yang dinyanyikan Anggi, mungkin karena ini kali kedua mereka tampil di sana atau memang penikmat musik di sana sudah sadar akan perkembangan musik di luar. “Simfoni Menuju Akhir,” “Ambisi,” dan cover “Jengah” dari Pas Band mereka nyanyikan sambil menari dan menggila. Metalhead wanita, seperti panggung-panggung biasa Revenge the Fate, mewarnai garis depan mosh pit.

Sesaat setelah matahari terbenam, acara diistirahatkan kemudian MC mengumumkan tempat mengambil air wudu dan mengarahkan pengunjung ke tempat yang sudah disediakan. “Musik boleh metal tapi salat jangan ditinggal,” ujarnya dari atas panggung. Mereka pun salat magrib berjamaah di venue, tempat yang tadinya dan setelahnya nanti, mereka gunakan untuk menikmati apa yang disebut haram oleh beberapa pemuka agama.

Kapital, unit metal kebanggaan Tenggarong, menjadi band pertama yang tampil di malam hari. Mereka tidak pernah absen mengisi Rock in Borneo dan di kali keenam ini ada hal istimewa yang mereka bawa. Album baru mereka, Semesta Rawa, dirilis bersamaan dengan Rock in Borneo 2017. “Mutu Manikam” dan “Sajak Matahari” adalah potongan album tersebut yang mereka bawakan malam itu, menemani hit-hit mereka sebelumnya seperti, “Gaza,” “Bermain Peran,” dan “Resonansi Dua Sisi.” Selain itu, Akbar Haka, dengan rambut baru yang membuatnya terlihat seperti Chester Bennington, meresmikan bassist baru Kapital, Ninoy, menggantikan Beng yang sebelumnya hengkang.

Akhirnya, pertunjukkan Mamanda dimulai. Para pemeran mempraktikan Ladon, seni bertutur yang merupakan bagian dari Mamanda, dan mencampurkan jalan cerita dengan penampil yang akan naik selanjutnya.

Tarian Dayak dari Kombeng, Miau Baru, salah satu daerah di Kutai Timur dan Tari Jepen muncul berturut-turut. Musik Tari Dayak Miau Baru sangat kental dengan suara alat musik petik, mungkin sampek, dengan tangga nada mayor namun tetap memberi kesan mistis, menemani koreografi para penari wanita dengan hiasan bulu di kedua tangan dan seorang penari pria dengan tameng dan pedang. 

Di lain sisi, Tari Jepen sepertinya berpatok pada alat musik pukul, mengatur tempo dari beberapa pasang penari wanita dan pria yang juga memanfaatkan rebana dalam tarian mereka dengan gerakan yang lebih tegas dan banyak memanfaatkan luas panggung. Sang raja yang bersedih muncul setelah kedua tarian tadi. Untuk menghiburnya, para pengikutnya bersiap memanggil hiburan selanjutnya, Jamrud. 

Jamrud muncul dengan “Berakit Rakit” sebagai pembuka. Jumlah pengunjung yang mencapai 60 ribu orang nampaknya mencapai puncak saat mereka tampil. Krisyanto dan kawan-kawan membawakan lagu mereka yang tentunya sudah dikenal seperti “Naksir Abis,” “Ningrat,” “Kabari Aku,” dan “Surti Tejo.” Lalu Krisyanto mempersembahkan lagu selanjutnya untuk ulang tahun Tenggarong, Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara, yang sebenarnya masih lima hari lagi tiba, lagu “Selamat Ulang Tahun” pun dibawakan disusul dengan “Putri” dan ditutup dengan “Waktuku Mandi.”

Band pengisi lineup internasional yang di tahun-tahun sebelumnya sempat diisi Sepultura, Helloween, Testament, FireHouse, dan lain-lain ini membawakan belasan lagu selama sekitar 90 menit waktu tampilnya. “Piece of Me,” “Livin’ on A Chain Gang,” “18 and Life,” dan “Rattlenake Shake” dibawakan berturut-turut dibawah pimpinan vokal ZP Theart yang baru saja bergabung secara resmi dengan Skid Row pada awal tahun. Lalu, mantan vokalis DragonForce ini memberi kehormatan untuk Bolan untuk mengambil alih vokal dalam lagu “Psycho Teraphy.”

Setelah ZP kembali untuk menyanyikan “In A Darkened Room,” dan “Get the Fuck Out,” Snake ingin mencoba bermain dengan crowd yang hadir.

“Bisakah kalian menyoraki boo pada saya,” katanya pada penonton. Penonton sempat terdiam karena tidak mengerti ucapnnya yang disampaikan dalam bahasa Inggris namun akhirnya menyorakinya setelah Snake mencontohkan. Ia pun tertawa dan mencobanya beberapa kali didampingi ZP yang meminjam kamera pihak dokumentasi dan merekam kelakuan gitarisnya.

Mereka pun membawakan “Monkey Business”. Ditengah-tengah lagu, anggota Skid Row bergantian menunjukkan keahlian mereka. Dimulai dari Bolan yang maju lebih dekat dengan penonton membetot bassnya hanya ditemani ketukan drum Rob Hammersmith dilanjutkan dengan Snake dan Scotti Hill yang bergantian berimprovisasi. Snake dan Scotti sedikit menyomot potongan “Cowboys From Hell” dari Pantera dalam jamming session ini.

Di akhir acara mereka memainkan balada andalan mereka “I Remember You,” dilanjutkan dengan “We Are the Damned” dan “Youth Gone Wild”.

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments: